kenapa sepertinya orang-orang mengalami kesulitan untuk jujur pada dirinya sendiri?
entah apa alasannya, bukankah mereka sudah mendustai kata hatinya, keyakinannya...
sedangkan bila kita tidak jujur pada kata hati, akan jadi apa kita?
bukankah untuk bisa menerima suatu kebenaran, kita harus bisa mendengarkan kata hati yang menyuarakan kejujuran...
beberapa hari terakhir bertemu dengan seseorang yang aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi orang seperti ini...
setiap hal yang dia katakan saat ini, hampir selalu berlawanan dengan hal yang akan dia katakan beberapa saat berikutnya, memusingkan...
dengan gelar sarjana yang cukup tinggi, ternyata tidak membuat seseorang menyadari betapa pentingnya mendengar kata hati dan jujur pada kata hati...
ah, entahlah, mungkin aku saja yang memang tidak mengerti setiap maksud pembicaraannya, dan aku hampir yakin 100% bahwa orang tersebut juga tidak memahami maksud dari apa yang dia bicarakan...
sehingga akhirnya aku memutuskan bahwa, dia itu tidak jauh beda dengan anak kecil, yang tidak tahu apa maunya, tidak mengerti apa yang dia katakan, yang selalu ingin kelihatan lebih dari orang lain (in a positive way, itu yang agak melegakan), melakukan sesuatu bukan karena sesuatu yang memang dia yakini, tapi lebih kepada pengharapannya akan penghargaan orang pada dirinya...
orang ini hampir tidak menghargai dirinya sendiri, karena orang ini tidak meyakini apapun, sesuatu yang benar-benar dia yakini, benar-benar dia perjuangkan, sesuatu yang memang dia yakin benar meskipun seluruh dunia mengatakan dia salah...
aku hampir yakin bahwa apa pun yang dilakukan orang ini, tidak tahu apa maksud dan tujuan dari hal yang dilakukannya itu...
kenapa dia harus merasa bangga dengan kelebihannya yang bahkan bukan miliknya, dengan sesuatu yang dipamerkannya padahal dia tidak tahu kenapa dia melakukannya, dia tidak sadar, bahwa di hadapanku, dia sudah merendahkan dirinya sendiri, dia sudah membuat dirinya terlihat bodoh di depanku...
melelahkan jika harus menghabiskan waktu dengan orang seperti ini, dan aku pun akan berusaha sedemikian rupa sehingga aku menghabiskan waktu sesedikit mungkin dengan orang seperti ini, bahkan kalau memang keadaan memungkinkan, aku akan memilih untuk tidak berinteraksi dengan manusia macam ini, menghabiskan waktu percuma...
setiap pembicaraan dengan orang ini, hanya membuat aku emosi dan emosi, tapi hal posotifnya, dengan begitu, ketika aku emosi, aku akan lebih banyak diam dan berpikir, aku harus berterima kasih juga karena telah membuat aku menikmati waktu berpikirku...
aku hanya sudah lelah melayani orang-orang seperti ini...
aku bukan orang yang senang ngobrol dengan konsep menang-kalah, karena menurut aku, hidup ini bukan perlombaan, jadi ga ada yang namanya menang dan kalah, kita semua ada dalam perahu yang sama, untuk apa kita saling "bunuh" (meminjam kata-kata dari teman baik aku sejak kuliah)...
alangkah lebih baiknya, ketika berinteraksi dengan sesama manusia lainnya, kita bertukar pikiran dan tidak memaksakan apa yang ada di pikiran kita, mungkin aku juga sedang berusaha memaksakan pendapat aku tentang pandanganku tentang keidupan ini pada orang itu, tapi karena beda sudut pandang, beda domain, jadi tidak mungkin menemukan penyelesaian...
mungkin dia itu jenis orang yang ingin terlihat baik dan sempurna untuk semua hal, semua kalangan, sehingga dia tidak sadar, dengan melakukan hal itu, dia sudah menghilangkan idealismenya (seandainya tidak punya idealisme, minimal dia punya prinsip lah), ketika dengan kelompok A dia berpendapat sama dengan A, dan ketika dia sedang dengan kelompok B dia akan berpendapat sama dengan kelompok B, meskipun pendapat kedua kelompok ini sangat jauh bersebrangan...
bagaimana mungkin orang lain akan berpikir dia itu baik, sedangkan berpendapat saja tidak bisa, mana mungkin dia bisa menjadi orang baik?
nah, di saat-saat menyebalkan seperti ini, aku hanya ingin bertemu dengan kamu...
cuma dengan kamu aku bisa membicarakan semuanya, tanpa memperdulikan ruang dan waktu...
dengan kamu, pangeran impianku...
Recent Comments